Rabu, 02 Desember 2009

BAHASA, PEMIKIRAN DAN PERADABAN

BAHASA, PEMIKIRAN DAN PERADABAN:
Telaah Filsafat Pengetahuan dan Sosiolinguistik



Tiada keraguan bahwa bahasa merupakan unsur pokok dan prasyarat utama perkembangan peradaban manusia. Karena itu, menjadi menarik untuk kembali mengajukan sebuah pertanyaan klasik seputar kelahiran bahasa yang selama ini telah menjadi perdebatan para ahli dan filsuf bahasa. Sejak kapan bahasa ada? Secara sambil lalu mungkin bisa dijawab sejak manusia ada. Bila nirmana (perspective) evolusionisme Darwinian digunakan, maka bahasa lahir bersamaan dengan munculnya spesies homo sapiens.

Sayang sekali, seperti teori dasarnya yang gagal menemukan matarantai yang hilang (missing link), perluasan teori ini di bidang sosial-budaya juga gagal menghadirkan sedikit saja bukti tentang kehebatan manusia sebagai pencipta bahasa. Karena itu, alih-alih meninggalkan begitu saja pertanyaan ini, sebagai pengiman kitab suci, saya justru menawarkan sebuah titik tolak peristiwa bahasa pertama berdasarkan kisah penciptaan manusia pertama.

Dengan sedikit perenungan, akan tampak jelas bagaimana dalam kisah penciptaan manusia pertama terdapat dialog yang tidak saja membuktikan adanya peristiwa bahasa pertama, tetapi juga menjelaskan kekhususan manusia dibanding makhluk lain, serta alasan mendasar atas fenomena penguasaan manusia atas bumi.

”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi", demikian Allah berfirman kepada para malaikat.

"Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?", para malaikat bertanya.

”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”, Allah berfirman lagi.

Ketika itu, Allah telah mengajarkan kepada Adam, manusia dan nabi pertama, semua nama benda, tetapi tidak mengajarkan perihal yang sama kepada para malaikat.

"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!", firman Allah kepada para malaikat.

"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” jawab para malaikat.

”Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini", firman Allah kepada Adam.

Karena Allah sudah mengajarkan perihal itu kepadanya, maka Adam pun menyebutkan kepada para malaikat nama-nama benda yang dimaksud Allah.

"Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?", firman Allah lagi.

Setelah menunjukkan kelebihan yang Dia karuniakan kepada Adam, maka Allah berfirman kepada para malaikat agar mereka menghormat kepada Adam. Semua malaikat memberikan hormat mereka kecuali Iblis yang enggan dan takabur, sehingga digolongkan sebagai kaum kafir.

Ada pelajaran sangat penting dari peristiwa bahasa pertama ini. Penguasaan kosa kata serta kecakapan merangkai kata-kata secara bermakna, sejauh mengikuti logika terbatas atas wacana tersebut, bisa ditafsir sebagai ciri kualitatif non-fisik Adam dibanding dengan makhluk lain. Ciri-ciri lain, misalnya dalam At-Tiin lebih menunjuk pada ciri kuantitatif fisik. Karena itu, ditambah dengan penegasan dan perintah dan bahkan sindiran berkali-kali agar manusia menggunakan akal atau berpikir, paling tidak terdapat tiga keistimewaan manusia dibanding makhluk lain, yaitu: penguasaan bahasa, kemampuan berpikir, dan kesempurnaan bentuk ragawi.

Secara teoretik terdapat sinergi sangat kuat di antara ketiga ciri istimewa manusia tersebut. Tanpa bahasa, maka sehebat apa pun pemikiran tidak akan bisa disampaikan kepada dan dipahami oleh orang lain. Demikian pula, tanpa pemikiran, maka bahasa manusia juga tidak akan berkembang sebagaimana sekarang. Sinergi antara bahasa dan pemikiran manusia ini pula yang mengantarkan manusia untuk tidak saja menyempurnakan penampilan ragawi mereka, tetapi juga mengatasi berbagai keterbatasan ragawi mereka sehingga memberi jalan bagi lahirnya fenomena khas manusia berupa kebudayaan, dan secara lebih khusus peradaban. Juga tampak dari perintah untuk menghormat kepada pemilik bahasa dan buah pemikiran berupa pengetahuan, betapa Islam menempatkan bahasa dan pemikiran secara sangat terhormat.

Menghayati kedudukan terhormat bahasa dan pemikiran, yang memberi jalan bagi kelahiran peradaban manusia, maka sesuai dengan bidang minat kajian pribadi saya, yaitu: filsafat pengetahuan dan sosiolinguistik, maka saya memilih bahasa, pemikiran dan peradaban sebagai tema pidato pengukuhan ini.

Bahasa dalam Pandangan Filsafat Pengetahuan

Dari istilah episteme yang berarti pengetahuan, epistemologi kini dikenal sebagai cabang kajian tentang bentuk-bentuk pengetahuan yang sahih. Sering pula disebut sebagai filsafat atau teori pengetahuan. Epistemologi meminati sejumlah pertanyaan, antara lain: Apakah mungkin memperoleh pengetahuan sejati? Bagaimanakah sifat-sifat dasar kebenaran? Apa saja keterbatasan pengetahuan? Metode apakah yang harus diterapkan untuk mendapatkan pengetahuan yang sahih? Bagaimana menilai suatu pernyataan apriori? Dimanakah batas antara subjektivitas dan objektivitas?
Lazimnya, selain logika dan matematika, epistemologi juga memandang bahasa sebagairtfg piranti sangat penting untuk menghasilkan pengetahuan yang sahih. Dengan ungkapan lebih sederhana, bahasa merupakan salah satu sarana berpikir ilmiah, sekaligus juga sarana untuk menyampaikan hasil pemikiran ilmiah. Karena itu, penting sekali bagi siapa pun yang akan memasuki dunia pengetahuan secara umum untuk memahami hubungan antara bahasa dengan kegiatan berpikir.

Memang tidak banyak filsuf atau ilmuwan yang menaruh perhatian cukup besar terhadap hubungan antara bahasa dan pemikiran, apalagi dikaitkan dengan peradaban. Dari jumlah yang sedikit tersebut, bisa disebut antara lain Thomas Hobbes, Ludwig Wittgenstein, Ernest Cassirer, dan Michael Polanyi.

Mana yang lebih dulu dan lebih penting antara bahasa dan pemikiran? Bisakah tumbuh bahasa tanpa pemikiran? Mungkinkah pemikiran berlangsung tanpa bahasa? Barangkali itu merupakan sejumlah pertanyaan yang begitu menggoda untuk ditelaah terus-menerus.
Thomas Hobbes, seorang filsuf terkemuka berkebangsaan Inggris, mempertanyakan ”apa yang memungkinkan pengetahuan manusia terus-menerus berkembang?” Perenungannya sampai pada kesimpulan bahwa keistimewaan manusia terletak pada kemampuannya menandai secara simbolik setiap kenyataan. Contoh sangat sederhana tetapi cukup mengejutkan kita adalah, sebuah perhelatan yang demikian rumit seperti ini --- ada kepanitiaan, pidato ilmiah, tamu-tamu terhormat, paduan suara, prosesi anggota senat, spanduk, konsumsi dan sebagainya ----, bisa ditandai secara simbolik dengan istilah ”pengukuhan”, sebuah istilah yang sangat ringkas, sederhana, dan mudah dipahami. Memang salah satu fungsi bahasa adalah untuk membuat simplifikasi realitas yang kompleks agar mudah dipahami.

Manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan, sedangkan binatang tidak mampu melakukan itu semua. Karena ada sediaan nama-nama itu, maka manusia mampu memanggil kembali dan mengaitkannya satu sama lain. Ilmu dan filsafat dimungkinkan kelahirannya karena kemampuan manusia untuk merumuskan kata-kata dan kalimat. Karena itu, pengetahuan manusia pun memiliki dua bentuk berbeda, yaitu: pengetahuan realitas dan pengetahuan konsekuensi.

Science and philosophy are possible because of man's capacity to formulate words and sentences. Knowledge, then, takes on two different forms, one being knowledge of reality, and the other knowledge of consequences.

Walhasil, menjadi agak mudah bagi kita untuk memahami pernyataan seorang filsuf bahasa kenamaan Ludwig Wittgenstein bahwa ”batas bahasaku adalah batas duniaku” (Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt). Kalau ketidak-mampuan berbahasa adalah batas dunia binatang, maka kekurang-cakapan berbahasa juga membatasi dunia manusia. Pun bila dikehendaki memperluas dunia manusia, maka salah satu piranti utamanya adalah kecakapan berbahasa.
Ernest Cassirer, menggeser locus kajian filosofisnya pada persoalan hubungan antara bahasa dan pemikiran. Hasilnya, meskipun pada bidang kajian yang berbeda, mengingatkan tengara Emile Durkheim tentang kekhususan seorang pemikir luar biasa:

[That] a superb sociologist can hold views of society as radically different from those of the common man as are the views of physical reality held by the best physicists.

Memang Ernest Cassirer juga melahirkan suatu kesimpulan yang berbeda dari kecenderungan pemikiran awam. Kalau kebanyakan dari kita meyakini bahwa pembeda utama manusia dari binatang adalah kemampuan berpikirnya, maka Cassirer menegaskan bahwa manusia menjadi begitu istimewa karena bahasa. Ungkapan Erving Goffman, ”... human beings are symbol-using creatures”, pada dasarnya sama dan sebangun dengan penyebutan Cassirer bahwa manusia adalah animal symbolicum.

Secara filosofis, sebutan manusia sebagai makhluk pengguna simbol memiliki cakupan lebih luas dibanding sebutan manusia sebagai makhluk berpikir (homo sapiens), karena hanya dan hanya bila menggunakan bahasa maka manusia bisa berpikir dengan runtut, teratur, canggih, dan abstrak. Lebih lanjut, semua prestasi kolektif manusia, seperti khasanah pengetahuan keilmuan, kemajuan peradaban, serta keadiluhungan budaya, hampir pasti tidak bisa diwujudkan tanpa peran bahasa sebagai prasyarat utama.

Tanpa bahasa, maka tiada pula kemampuan manusia untuk meneruskan nilai-nilai, pola-pola perilaku, dan benda-benda budaya dari satu angkatan kepada angkatan penerusnya. Lebih dari itu, tanpa bahasa boleh jadi juga akan jauh lebih sulit membayangkan terjadinya pengayaan budaya melalui pertukaran antar kelompok masyarakat.

Sebegitu jauh, bahasa telah memberikan sumbangan paling pentingnya bagi umat manusia. Namun demikian, sebagaimana diuraikan oleh Michael Polanyi, seorang filsuf berkebangsaan Hongaria, terdapat paradoks hubungan antara bahasa dan pengetahuan. Di satu sisi, bahasa memungkinkan manusia untuk berbagi, mewariskan, dan mengembangkan hasil buah pemikiran, yang di antaranya adalah pengetahuan. Di sisi lain, karena sifat dasar yang juga tak terelakkan, ternyata bahasa juga cenderung menyederhanakan kenyataan yang seharusnya bisa dipaparkan, dijelaskan, dan bahkan diramalkan secara apa adanya oleh ilmu pengetahuan.

Berdasarkan tinjauan matra bahasa pula, Michael Polanyi menggolongkan dua jenis pengetahuan manusia (Periksa Bagan 1). Menurutnya, dari kenyataan (the whole reality) yang hampir tak terbatas, sebagian kecilnya merupakan kenyataan yang diketahui (the known reality) manusia, sehingga melahirkan pengetahuan (knowledge). Selanjutnya, dari khasanah pengetahuan yang jumlahnya juga masih luar biasa, sebagian besar masih merupakan pengetahuan tak terbahasakan (pre-articulated knowledge), sedangkan sebagian kecil di antaranya merupakan pengetahuan terbahasakan (articulated knowledge). Konsekuensinya, tak mungkin menarik kesimpulan lain, kecuali bahwa manusia pada dasarnya mengetahui lebih banyak daripada yang bisa diucapkan (we know more than we can say).



Apa yang sehari-hari kita bincang sebagai pengetahuan, mengacu pemikiran Polanyi, tidak lain adalah pengetahuan yang terbahasakan. Setiap butir dari khasanah pengetahuan manusia, semula berasal dari pengetahuan pribadi (personal knowledge). Hanya dan hanya bila pemilik pengetahuan mampu membahasakan pengetahuan pribadinya, maka pengetahuan jenis ini bisa menjadi pengetahuan objektif, dalam arti bisa dibahas dan bahkan diuji oleh orang lain. Walaupun demikian, tetap saja masih begitu banyak pengetahuan manusia yang tetap tinggal menjadi pengetahuan pribadi yang tak-terbahasakan. Pengetahuan kita tentang segala rasa, seperti pedas, manis, asin dan lain-lain, misalnya, masih saja gagal kita tingkatkan derajatnya menjadi pengetahuan terbahasakan.

Kenyataan tentang kegagalan manusia untuk membahasakan seluruh pengetahuan yang mereka miliki, memaksa kita untuk menyimpulkan, bahwa di samping begitu berjasa di dalam mengembangkan pengetahuan manusia, ternyata begitu terbatas kemampuan bahasa untuk digunakan sebagai piranti pengungkap seluruh pengetahuan manusia. Lebih dari itu, bahasa juga telah membatasi manusia dalam mengungkapkan kenyataan sebagaimana adanya. Jadi bahasa memiliki sifat reduksionis.

Memang benar bahwa dengan hanya dua kata, mancung dan pesek, kita bisa merangkum seluruh kategori bentuk hidung. Namun demikian, juga sangat kentara bagaimana kedua kata itu telah begitu semena-mena menggolongkan saya, atau mungkin juga anda semua, sebagai orang berhidung pesek. Tidak adil, sebab hanya karena kita tidak memiliki istilah lain yang lebih mewakili, kita terpaksa melakukan penggolongan seperti itu. Sifat reduksionis bahasa ini yang acapkali kurang disadari oleh para pengguna bahasa. Termasuk di dalam kelompok pengguna bahasa ini adalah para ilmuwan yang mengembangkan terminologi yang tidak saja kurang mewakili realitas yang hendak dicakup, tetapi juga mengandung kemencengan (biased). Bisa dibayangkan, bagaimana sosok yang sama, bisa mendapat sebutan yang sangat berlawanan, seperti istilah ”pahlawan” dengan istilah ”penjahat”. Sekadar contoh adalah Pangeran Diponegoro. Bagi bangsa Indonesia, dia dikenal sebagai pahlawan, tetapi sebaliknya bagi penjajah Belanda dia adalah penjahat atau pemberontak sehingga ditangkap dan kemudian diasingkan.

Diletakkan dalam konteks kebahasaan di Indonesia, kita bisa semakin memahami mengapa Bahasa Indonesia belum bisa tampil sebagai bahasa keilmuan secara memuaskan bila dibandingkan dengan Bahasa Inggris atau bahkan Bahasa Arab. Ketebalan kamus ketiga bahasa ini saja sudah mampu menggambarkan tingkat kekayaan kosa katanya. Karena lema (entry) kata Bahasa Indonesia jauh lebih rendah dibanding Bahasa Inggris, maka secara logis bisa disimpulkan bahwa penggunaan Bahasa Indonesia dalam bidang keilmuan berpotensi mengakibatkan reduksionisme berlebihan. Contohnya kita mengalami kesulitan ketika menjelaskan makna demokrasi seperti makna asalnya, dan kemudian mempraktikkannya dalam kehidupan karena sesungguhnya kita tidak mengenal paham tersebut. Akibatnya praktik demokrasi menemui banyak kendala. Padahal, ketepatan, kecermatan, dan keterwakilan baik dalam pengukuran atau pelabelan (measurement and labeling) terhadap kenyataan sebagai bahan kajian ilmu, merupakan syarat bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Menjadi lebih jelas bagi kita mengapa tidak semua kandungan khazanah pengetahuan manusia bisa dimajukan menjadi pengetahuan terbahasakan? Sebagian jawabanya jelas, karena keterbatasan bahasa. Karena itu, sebagian jalan pemecahan dari masalah itu pun cukup jelas. Bila bahasa dikehendaki sebagai bahasa pengetahuan, maka tidak hanya kosa kata yang harus dikembangkan, tetapi tata bahasanya pun harus dicanggihkan, sehingga mampu menjadi sarana pengungkap kenyataan secara tepat, rinci, dan lengkap.

Dari sisi ilmuwan sebagai pengguna bahasa, maka kekayaan kosa kata dan ketrampilan tata-bahasanya pun harus senantiasa diperbaiki. Semakin banyak kosa kata yang mereka miliki, serta semakin terampil mereka menyusun kalimat, maka semakin mungkin bagi mereka untuk mempersembahkan pengetahuan pribadinya agar bisa diterima menjadi bagian dari khasanah pengetahuan terbahasakan. Bagi seorang ilmuwan, berlaku ungkapan Gadamer, bahwa keberadaan akan mewujud dalam bahasa. Kelengkapan peran seorang ilmuwan mencakup empat kecakapan utama, yaitu kemampuan pengumpulan data (observing), kemampuan menarik kesimpulan secara logis (reasoning) baik deduktif maupun induktif, kemampuan menyusun model teoretik (constructing), dan kemampuan mengomunikasikan semua itu dengan bahasa yang baik dan mudah dimengerti (communicating).

Bahasa dan Kemajuan Peradaban

Sebagai gejala khas manusia, peradaban (tammadun, civilization) dikenali sebagai bagian dari kebudayaan. Kebudayaan, meskipun begitu banyak takrif diberikan, digambarkan memiliki tiga perwujudan, yaitu sebagai: seperangkat gagasan, pola-pola perilaku, dan benda-benda karya manusia.

Bertolak dari pemikiran bahwa situasi kemasyarakatan niscaya dibentuk oleh tiga komponen budaya yang saling berkaitan, yaitu: ideologi, teknologi dan organisasi sosial, Thomas J. La Belle mengembangkan konfigurasi tiga komponen kebudayaan dengan perilaku manusia sebagai pusatnya sebagai berikut (Periksa Bagan 2).

Ketiga sub-sistem sosio-budaya, yaitu: ideologi, organisasi sosial, dan teknologi, saling memengaruhi untuk akhirnya membentuk perilaku masyarakat. Sub-sistem ideologi menjawab pertanyaan mengapa dan kemana. Ini mencakup seperangkat nilai, keyakinan, pengetahuan yang dimiliki dan dianut oleh masyarakat. Faktor-faktor yang tercakup dalam ideologi, utamanya memberikan arah kepada perilaku dan tindakan masyarakat. Dengan ungkapan lain, ideologi berperan sebagai paradigma ideal-normatif.

Organisasi sosial menunjuk pada pola-pola hubungan, tatanan, serta pranata-pranata yang digunakan oleh manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya, atau cara-cara individu mengorganisasikan hubungan-hubungan dan interaksi mereka dengan orang lain.
Sub-sistem teknologi mencakup baik kegiatan maupun objek yang oleh masyarakat digunakan untuk mengatur atau mengelola lingkungan atau benda-benda di sekitarnya. Dengan demikian, teknologi menunjuk pada keterampilan, piranti, tata kerja, dan teknik yang digunakan manusia untuk mewujudkan kehendak yang diarahkan oleh ideologi. Teknologi menjawab pertanyaan dengan apa, cara apa, atau alat apa dan bagaimana.




Bila disepadankan dengan civilization, maka istilah peradaban hanya menunjuk kepada benda-benda buatan manusia (cultural materials). Namun demikian, bila disepadankan dengan tamaddun, istilah peradaban mencakup tidak hanya benda-benda buatan manusia yang bermutu tinggi, tetapi juga berbagai gagasan cemerlang dan bijaksana, serta pola-pola perilaku luhur dan bermartabat.

Tamaddun sendiri berasal dari bahasa Arab madinah atau kota dan madaniyah atau aspek material dari peradaban atau tamaddun itu. Sedangkan aspek intelektual dan spiritual dari tamaddun itu disebut budaya, dalam bahasa Arab disebut tsaqaafah dan dalam bahasa Inggris disebut culture. Pendeknya tamaddun itu mengandung dua komponen: madaniyah yaitu aspek material dari tamaddun, dan kebudayaan adalah aspek intelektual dan spiritual dari tamaddun itu. Ibarat sebuah mobil madaniyah adalah badan mobil, sedang budaya adalah mesin yang mendorong mobil supaya bergerak. Aspek lain dari budaya (tsaqaafah) selain dari ilmu adalah seni, moral dan lain-lain. Scmua ini berfungsi sebagai penggerak tamaddun, ibarat mesin pada mobil.

Peradaban, yang dalam Bahasa Arab adalah tamaddun, menujuk pada pola-pola yang maju dan tinggi dalam cara-cara kehidupan umat manusia. Tamaddun meliputi dua aspek, yaitu aspek budaya yang merupakan jiwa dan aspek pemikiran dan spiritual tamaddun, sedang aspek kebendaan dan bentuk luarnya disebut madaniyah. Barangkali dari sini berasal kata tamaddun itu, yaitu usaha dengan kuat untuk memiliki madaniyah. Kata tamaddun mengandung dua aspek, yaitu tsaqaafah yang merupakan aspek pemikiran dan spiritual, dan madaniyah yang merupakan kebendaan dari peradaban.

Bertolak dari takrif yang diberikan kepada tamaddun, dapat kita simpulkan bahwa tamaddun tiada lain adalah proses dan hasil tindakan manusia. Rangkaian tindakan manusia bisa dikias sebagai batu-bata yang membangun tamaddun. Rangkaian tindakan manusia bisa dipilah menjadi dua kelompok besar, yaitu: (1) tindakan manusia sebagai akibat dari interaksinya dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan orang lain, baik sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, maupun sebagai umat manusia, (2) tindakan manusia sebagai akibat dari interaksinya dengan alam, benda-benda, serta makhluk-makhluk lain.

Unsur-unsur tindakan manusia, sehagaimana dapat disimpulkan dari sejarah umat dan ayat-ayat- al-Qur-an, terdiri dari: kehendak bebas, kemampuan, dan pengetahuan. Tanpa kehendak bebas manusia tak dapat berbuat apa-apa, apa lagi dalam fungsinya sebagai khalifah. Oleh sebab itu, unsur ini juga membedakan manusia dari makhluk lain. Malaikat tidak diangkat sebagai khalifah karena patuh sepenuhnya kepada perintah kepada Allah, dan tidak memiliki kehendak bebas. Namun kehendak bebas manusia bersifat terbatas. Seseorang, misalnya, tidak sanggup memilih ibu dan atau bapak yang akan melahirkannya. Kebebasan manusia dibatasi oleh kemampuan dan kodratnya, baik sebagai individu atau sebagai masyarakat.

Agar tindakan manusia itu tidak bersifat acak, maka ia memerlukan ilmu. Bagi manusia, ilmu berfungsi: membimbingnya untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk, (2) menolong kemampuan yang terbatas itu agar lebih luas jangkauannya. Ilmu dan teknologi modern tidak menciptakan kemampuan baru manusia, tetapi hanya menolong dengan mempertajam dan memperluas kemampuan manusia.

Tampak jelas bahwa istilah peradaban lebih bermuatan nilai (value weighted) dibanding istilah kebudayaan. Karena itu, kita bisa mengatakan ada peradaban yang maju, tetapi tidak bisa mengatakan kebudayaan yang rendah. Tidak mengherankan kalau klaim tentang kebudayaan tinggi dan kebudayaan rendah senantiasa dipersoalkan. Praktik berbahasa suatu masyarakat atau seseorang, mengacu konsep peradaban demikian, pada hakikatnya juga mencerminkan keberadaban masyarakat atau seseorang dimaksud.

Kemajuan peradaban, sejauh ia bergantung pada hasil pikiran kolektif manusia, dimungkinkan karena menyatunya tiga karakteristik manusia sebagai homo symbolicum, yang melandasi kegiatannya sebagai homo sapiens. Kegiatan manusia sebagai homo sapiens, pada gilirannya, melandasi perilakunya sebagai homo faber. Ini menjelaskan bahwa prestasi kolektif manusia sebagai makhluk perekayasa (homo faber) hanya akan berkembang pesat apabila dilandasi oleh bangunan pengetahuan yang logik dan teruji (logical and verified knowledge) sebagai hasil kegiatannya selaku makhluk bernalar (homo sapiens). Sebagaimana dijelaskan tentang hubungan antara karakteristik manusia sebagai homo symbolicum dan sebagai homo sapiens, hanya dan hanya bila menggunakan bahasa maka manusia bisa berpikir dengan runtut, teratur, canggih, dan abstrak sebagaimana dituntut dalam kegiatan keilmuan. Walhasil, kemajuan peradaban diprasyarati oleh kemajuan pengetahuan. Kemajuan pengetahuan diprasyarati oleh kemapanan bahasa. Hasil kajian Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), bisa menjelaskan proposisi berantai tersebut.

Peter Russel (1992) yang dalam analisisnya mengacu pada data OECD, mencoba menghitung laju dan percepatan pertumbuhan ilmu dan teknologi. Andai kita membiji satu satuan pengetahuan kolektif manusia untuk Tahun 1 Masehi, itu dicapai manusia selama 50.000 tahun. Menjelang tahun 1500, karena manusia telah berhasil mengembangkan sistem bahasa tulis, volume pengetahuan mengalami penggandaan, menjadi dua kali lebih besar daripada sebelumnya. Penggandaan berikutnya terjadi tahun 1750. Hingga awal 1900-an, jumlah pengetahuan kolektif manusia sudah mencapai 8 (delapan) satuan.

Masa penggandaan makin lama makin singkat. Untuk penggandaan berikutnya, umat manusia hanya butuh waktu 50 tahun, yang menurun lagi menjadi 10 tahun. Pada tahun 1960 umat manusia memiliki 32 satuan pengetahuan kolektif. Tiga belas tahun kemudian (1973) menjadi 128 satuan. Kini, penggandaan akan terjadi setiap 18 bulan. Tak pelak lagi, timbunan pengetahuan umat manusia sekarang jauh lebih besar ketimbang yang terkumpul selama 7 millenia alias 7000 tahun.

Mencermati peran sangat penting bahasa, dan lebih-lebih bahasa tulis dalam memajukan peradaban, tidak mengherankan kalau sosiolog terkemuka Talcott Parsons juga menempat pemilikan bahasa sebagai salah satu tahap paling kritis berkembangnya peradaban. Selengkapnya, Talcott Parsons menteorikan lima tahapan perkembangan kebudayaan, yaitu: (1) kebudayaan primitif, (2) kebudayaan baca-tulis, (3) kewarga-negaraan luas, (4) filsafat dan kesusasteraan, dan (5) kebudayaan berkaidah hukum dan agama universalistik.

Kita bersyukur, karena ternyata Allah menurunkan al-Qur’an di masyarakat yang juga berperadaban baca-tulis, sehingga kini al-Qur’an bisa dengan mudah dibaca, dikaji, dan diaktualisasikan nilai-nilainya. Bisa dibayangkan, seandainya kebudayaan Arab tidak memiliki sistem penulisan sendiri, maka juga tidak mungkin bagi Utsman bin Affan r.a. untuk membukukan al-Qur’an dengan cermat dan tepat sebagaimana kita gunakan sekarang.

Sejauh kebudayaan baca-tulis dipandang sebagai salah satu tahapan sangat penting perkembangan lanjut peradaban, maka kita boleh berbangga tetapi juga prihatin. Indonesia semestinya bisa menjadi salah satu pusat peradaban dunia, karena salah satu bahasa daerahnya dikenal sebagai salah satu dari hanya dua puluh satu bahasa di dunia yang memiliki sistem tulis sendiri (writing system), yakni: Bahasa Jawa yang memiliki sistem huruf dengan beberapa sandangan bunyi vokal sebagai berikut:



Dengan sistem penulisan tersebut, para pujangga dan pemikir Jawa mewariskan karya-karyanya kepada angkatan penerusnya. Ini yang memungkinkan para akademisi angkatan masa kini untuk tetap bisa mengkaji, mengembangkan dan bahkan mengecam karya-karya filosofis Jawa seperti Serat Centhini, Serat Wulang Reh, Serat Wedhatama hingga Serat Kala Tidha, karya Pujangga kenamaan Ronggowarsito.

Kebanggaan harus disandingkan dengan keprihatinan, karena hasil kajian mutakhir tentang preferensi bahasa menunjukkan betapa semakin menurun jumlah pasangan suami-istri perkotaan yang membesarkan anak-anaknya dengan bahasa daerah, khususnya Jawa. Mereka lebih senang mendidik anak-anaknya dengan Bahasa Indonesia, atau bahkan Bahasa Inggris. Bahasa Jawa, bersama ratusan atau bahkan ribuan bahasa daerah di dunia sedang dalam bahaya, language endangerment, meminjam istilah Anthony Woodbury.
Today roughly 5,000 to 6,000 languages are spoken in the world, but a century from now, the number will almost certainly fall to the low thousands or even the hundreds. More than ever, communities that were once self-sufficient find themselves under intense pressure to integrate with powerful neighbors, regional forces, or invaders, often leading to the loss of their own languages and even their ethnic identity.

Para ahli bahasa menilai bahwa keterancaman bahasa merupakan masalah yang sungguh sangat serius karena memiliki konsekuensi humanistik dan keilmuan. Belakangan ini para ahli sosiolinguistik dan antropolinguistik semakin memahami pengaruh kepunahan bahasa terhadap masyarakat. Salah satu pengaruh paling menonjol dari punahnya suatu bahasa, baik karena terpaksa maupun sukarela, adalah hilangnya identitas sosial. Lebih memprihatinkan lagi, kehilangan juga sampai pada aspek-aspek budaya, spiritual dan intelektual.

Moreover, the loss is not only a matter of perceived identity. Much of the cultural, spiritual, and intellectual life of a people is experienced through language. This ranges from prayers, myths, ceremonies, poetry, oratory, and technical vocabulary, to everyday greetings, leave-takings, conversational styles, humor, ways of speaking to children, and unique terms for habits, behavior, and emotions. When a language is lost, all this must be refashioned in the new language -- with different word categories, sounds, and grammatical structures -- if it is to be kept at all. Linguists' work in communities when language shift is occurring shows that for the most part such refashioning, even when social identity is maintained, involves abrupt loss of tradition. More often, the cultural forms of the colonial power take over, transmitted often by television.

Memang bisa saja dikatakan bahwa kepunahan sejumlah bahasa merupakan akibat tak terelakkan dari kemajuan dan akan meningkatkan kesaling-pemahaman antar kelompok masyarakat. Namun demikian, semestinya tujuan ini dapat dicapai dengan belajar bahasa kedua atau ketiga, dan bukan dengan membiarkan punahnya bahasa daerah sebagai bahasa pertama. Sebab, meminjam ungkapan Galtung, kepunahan suatu bahasa daerah lebih merupakan akibat kekerasan struktural terhadap keragaman budaya.
Bahasa dan Masyarakat
Blantika musik Indonesia baru saja mencatat lagu Laskar Cinta sebagai salah satu lagu paling populer. Mudah dikesan, karya kelompok musik Dewa ini diilhami oleh ayat Al-Qur’an yang meniscayakan keragaman umat manusia.

Bukankah kita memang tercipta laki laki dan wanita
dan menjadi suku-suku dan bangsa bangsa yang pasti berbeda?
Bukankah kita memang harus saling mengenal dan menghormati
bukan untuk saling bercerai dan berperang angkat senjata?


Kalau keragaman umat manusia merupakan keniscayaan, maka seniscaya itu pula keragaman bahasa. Di sisi lain, belangsung kaidah panta rhei, semua mengalir, sebuah ungkapan yang mewakili salah satu pandangan filsafat, bahwa hakikat dunia adalah perubahan. Jadi, kalau perubahan merupakan keniscayaan, maka seniscaya itu pula perubahan bahasa.

Sosiolinguistik, sebagai salah satu bidang kajian lintas-disiplin, memang sering ditakrif sebagai sekadar kajian tentang aspek-aspek sosialnya bahasa. Ternyata, pengertian sederhana ini justru menawarkan kawasan dan tentu saja pendekatan kajian yang terus-menerus berkembang. Logika yang mendasari pernyataan ini cukup sederhana, yaitu: karena aspek-aspek sosial senantiasa bersifat dinamik, maka gejala bahasa pun bergerak dinamik. Konsekuensinya, praksis bahasa masyarakat pun menggambarkan praksis hidup para penggunanya.

Sebagaimana ditengarai oleh Yayah B. Mugnisjah Lumintaintang, para mahasiswa Fakultas Sastra kurang memberi perhatian kepada matakuliah sosiolinguistik. Menurut dia, setidaknya harus direkomendasikan bahwa kajian dari pendekatan sosiolinguistik sudah waktunya menjadi tanggungjawab para mahasiswa, dosen serta peneliti. Sejauh ini kajian tentang pemakaian bahasa dalam konteks masyarakat yang menjadi bidang kerja sosiolinguistik masih kurang mendapat perhatian.

Memang, bila ditilik dari usia bidang kajian sosiolinguistik yang baru muncul awal tahun 1960-an, masih terlalu dini untuk memperoleh tempat yang terhormat di kalangan akademisi maupun mahasiswa. Ini tampak dari, misalnya, jumlah jurusan bahasa dan sastra yang menawarkan matakuliah sosiolinguistik, jumlah tenaga ahli yang memilih minat sosiolinguistik, serta jumlah buku dan penerbitan tentang sosiolinguistik yang masih sangat sedikit. Namun demikian, bidang kajian ini sebenarnya memiliki daya-tarik tersendiri, dan karena itu juga sangat prospektif. Selain memiliki prospek sebagai salah satu piranti diagnosis sosial-politik, sosiolinguistik juga cukup menarik karena mengkaji bahasa tanpa dilepaskan dari faktor-faktor ekstralinguistik, termasuk konteks sosial para penggunaannya sebagaimana dikemukakan oleh Yayah B. Mugnisjah Lumintaintang.

[K]ajian sosiolinguistik merupakan kajian yang menggunakan ekstralinguistik atau faktor sosial untuk menjelaskan kebahasaan. Demikian pula halnya dengan penelitian tentang laras bahasa politik dan media massa.

"Laras bahasa politik dan media massa (elektronik/cetak) termasuk ke dalam penelitian sosiolinguistik karena keduanya dibahas dalam konteks sosial pemakaiannya," katanya.
Berkenaan dengan sketsa perspektif sosiolinguistik, Allen D. Grimshaw menggambarkannya sebagai berikut:



Tampak bahwa praksis bahasa seseorang atau sekelompok orang, yang mencakup dialek, register, jargon dan sebagainya, dibentuk oleh: (1) posisi dalam struktur sosial seperti nativitas, bahasa ibu, tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, kelas sosial, dan jenis kelamin, (2) formalitas dan informalitas percakapan dan audiensnya, dan (3) proses produksi linguistiknya, yang pada akhirnya menentukan (4) keluaran interaksionalnya. Semua itu, sebagaimana tampak, juga dipengaruhi oleh kendala dan keterlibatan situasional.

Pada tataran empirik, bisa dihipotesiskan bahwa situasi politik yang diliputi oleh persaingan sangat tajam, ikut membentuk fenomena dan perilaku bahasa para elite politik. Sebagaimana dipercaya oleh kaum Sofis, kegairahan mengasah kepiawaian berbahasa mencapai puncaknya ketika mereka sampai pada simpulan bahwa bahasa merupakan piranti utama bagi pencapaian aneka tujuan. Begitu besar pesona yang bisa ditampilkan, sehingga bahasa pun menjadi anasir sangat penting bagi percaturan politik tingkat tinggi. Karena itu, tidak mengherankan bila hingga kini, masih tampak jelas betapa bahasa dimanfaatkan sebagai senjata perjuangan politik. Siapa piawi bermain kata, maka dia pun berpeluang besar memenangkan pertarungan politik.
Begitu besar godaan kekuasaan, sehingga tidak jarang terjadi penyalah-gunaan bahasa yang bermuara pada kekonyolan-kekonyolan perilaku berbahasa di kalangan politisi. Kejatuhan Gus Dur dari kursi kepresiden, misalnya, disumbang salah satunya oleh kecerobohan bahasa politiknya sendiri. Kita masih ingat ungkapan Gus Dur ”Sulit membedakan antara anggota DPR dan murid taman kanak-kanak” ternyata telah menjadi pemicu ketegangan antara anggota DPR dan Gus Dur yang menggiring ke kejatuhannya (Rahardjo, 2005).

Persoalan ini pula yang dulu pernah menjadi bahan perdebatan para pengkaji budaya politik Indonesia, seperti bisa kita simak dari salah satu kajian berikut:

The languages of contemporary Indonesian politics have recently been the object of a certain cantankerous attention. The eminent Swiss historian and publicist Herbert Luethy describes Indonesian (bahasa Indonesia) as a ”synthetic” language that has borrowed ”copiously and indiscriminately from all the technical terminologies and ideological abstractions of the modern world”, and that is ”scarcely intelligible, in its newer parts, to the average Indonesian, who listens to the official speeches all the more admiringly for being able to make nothing of them.

Begitulah praksis penggunaan bahasa oleh para petarung politik (political gladiator) yang tidak jarang dijadikan rujukan oleh para pengikut setianya (the true believers). Lantas bahasa pun menjadi alat kekerasan simbolik-psikologik, menjadi semacam sangkur tajam yang setiap saat bisa melukai batin sasarannya. Menggunakan perspektif strukturasi Giddens (1990), bahasa bisa bersifat sangat memberdayakan (enabling) atau sangat mengendala (constraining), sedangkan dalam sorotan analisis wacana, praksis bahasa bisa bersifat sangat memerdekakan (emancipating) atau sangat mengancam (threatening).

Bila dipahami bahwa bahasa adalah cermin masyarakat, maka dengan mudah pula kita bisa memahami seperti apa masyarakat Indonesia masa kini (baca: pasca- kejatuhan Orde Baru). Jika pada era Gus Dur, kita temukan ungkapan-ungkapan seperti "biang kerok, maling, presiden pembohong, presiden tak jewer, jangan percaya kepada Presiden, Presiden jangan penthentang-pethenteng, omongan Presiden kok esuk dele sore tempe, anggota DPR seperti Taman Kanak-Kanak", dan sebagainya, di era Susilo Bambang Yudhoyono sekarang ini juga kita temukan ungkapan-ungkapan seperti ” SBY adalah presiden wacana, Raport Presiden merah, SBY adalah presiden peragu, SBY: Mana janjimu dan sebagainya. Selain itu, karena banyaknya musibah yang melanda Indonesia sejak dua tahun terakhir dan mengakibatkan terjadinya banyak korban, nama SBY pun dipelesetkan menjadi Presiden Susilo Bambang Nyudo Nyowo. Dalam perspektif sosiolinguistik Chaika (.......) bahwa bahasa adalah cermin penggunanya, maka paling tidak, mudah dikesan dunia batin macam apa yang tercermin dalam wajah kebahasaan seperti itu.

Bertolak dari postulat bahwa setiap zaman atau era menampilkan wajah bahasanya sendiri, maka era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono juga diwarnai penggunaan bahasa politik yang berbeda. Komedisasi politik seperti yang ditayangkan melalui Republik BBM dan Republik Mimpi oleh Stasiun Televisi Indosiar dan Metro TV setiap minggu bagi pengkaji sosiolinguistik tidak dapat diartikan sekadar lelucon dan hiburan, tetapi sebagai kontrol sosial (social criticim) masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

Betapapun, seperti aneka piranti lain, bahasa niscaya bersifat netral. Ia menjadi baik atau menjadi buruk, sangat bergantung kepada pemakainya. Bahasa, karena itu, menjadi senjata sangat handal bagi para pembenci, pun sangat bernilai bagi para pecinta. Bahasa juga bisa menjadi alat kejujuran, tetapi bisa pula menjadi alat kedustaan. Kita sembunyikan realitas tak dikehendaki dengan bahasa, juga kita bongkar realitas tersembunyi dengan bahasa. Hal-hal yang suram dapat kita jelaskan sehingga menjadi terang benderang melalui bahasa. Sebaliknya hal-hal yang sudah terang dan jelas dapat dijadikan suram melalui bahasa pula tergantung pada maksud penggunanya.

Bahasa, sejauh menggunakan perspektif sosiolinguistik, selain sebagai piranti komunikasi (means of communication) juga berfungsi untuk pengukuhan sosial (social establishment). Pada tataran bahasa sebagai piranti pengukuhan sosial ini, memang sangat boleh jadi bahasa jauh meninggalkan fungsi utamanya sebagai piranti penyampaian makna. Makna menjadi tidak penting lagi, karena bahasa telah berubah menjadi semacam ritus sosial.

Alah bisa karena biasa. Seorang asisten pejabat daerah yang biasa mewakili atasannya memberikan sambutan dalam berbagai acara, menjadi begitu terbiasa menggunakan sapaan khalayak ”saudara-saudara yang berbahagia”. Bagi asisten pejabat ini, tidak penting lagi apakah benar khalayak pendengarnya sedang berbahagia atau sedang berduka. Suatu ketika, dia harus mewakili atasannya untuk menghadiri dan memberikan sambutan di depan jenazah mitra kerja atasannya yang akan diberangkatkan ke makam.
”Saudara-saudara yang berbahagia, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa”.

Tetapi memang boleh jadi juga sapaan demikian tidak menjadi masalah, karena para pendengar dan bahkan shahibul musibahnya juga menganggap sapaan dan pernyataan itu sebagai sekadar ritus sosial semata, dan bukan untuk benar-benar ditangkap dan dihayati maknanya.

Tinjauan ekstra-linguistik juga memungkinkan kita untuk mencermati bagaimana bahasa juga bisa dicandra sebagai semacam mode pakaian (fashion).

Language is one of the most powerful emblems of social behavior. In the normal transfer of information through language, we use language to send vital social messages about who we are, where we come from, and who we associate with. It is often shocking to realize how extensively we may judge a person's background, character, and intentions based simply upon the person's language, dialect, or, in some instances, even the choice of a single word.

Setelah sebelumnya kita disuguhi bahasa prokem, kini kaum muda perkotaan masa kini memiliki bahasa gaul. ”Ya selamat jalan, TTDJ (baca: hati-hati di jalan) ya?” Demikian pula ada istilah-istilah seperti: ”nembak”, ”ngenet”, ”mejeng”, ”doi”, atau ”bokap” dan ”nyokap”. Semua istilah dan ungkapan itu bisa memberikan gambaran siapa yang bicara dan dari mana mereka berasal.

Keterbatasan ruang, yang dalam sketsa perspektif sosiolinguistik merupakan salah bentuk kendala situasional, ikut membentuk ragam bahasa khusus. Efisiensi pemanfaatan ruang yang dulu hanya dimonopoli oleh media massa cetak, sehingga muncul judul-judul berita yang bila dilepaskan dari konteksnya bisa sangat menyesatkan, seperti: ”SBY Setuju Dibuang ke Laut” (Jawa Pos, 27 September 2006). Kesalahan pada kalimat tersebut bukan sekadar kesalahan sederhana, apalgi sekadar salah menempatkan urutan kata, tetapi sungguh kesalahan logika yang sangat serius.
Dalam peristiwa bahasa yang lain, saya mendengar pengumuman dari seorang MC pada acara seminar di sebuah perguruan tinggi:

“Para hadirin yang terhormat. Karena narasumber telah datang, acara akan segera kita mulai. Tetapi perlu kami sampaikan bahwa demi kelancaran dan ketertiban acara, maka selama acara berlangsung yang membawa HP dimatikan!”.

Mendengar pengumuman itu, tentu saya bingung dan takut luar biasa karena jika menggunakan logika linguistik saya akan dimatikan (dibunuh) karena saya membawa HP. Sekali lagi ungkapan tersebut menunjukkan kesalahan logika yang sangat serius.
Kini, memperkuat tesis tentang ragam khusus bahasa dalam ruang terbatas, dikenal lagi bahasa pesan singkat (short message). Ragam bahasa ini, walaupun jauh lebih rumit dibanding ragam bahasa khusus lainnya, ternyata memiliki potensi menyebar sangat cepat serta digunakan oleh cukup banyak orang. Sebuah judul berita ”Sehari 100 Juta SMS Lebih, Terkirim di Bawah 10 Detik” (Jawa Pos, 26 Oktober 2006) sudah menggambarkan betapa tinggi intensitas penggunaan bahasa khusus ini.

Ragam bahasa pesan singkat memiliki pola pembentukan kata yang sangat rumit bila dibandingkan dengan bahasa sehari-hari. Ragam bahasa ini tidak hanya mengikuti pola bahasa lisan, tetapi juga tidak sepenuhnya mengikuti pola bahasa tulis. Ragam bahasa ini menggunakan keduanya, sehingga selain tidak konsisten juga berpotensi menimbulkan kesalahan penafsiran dan kesalahan pemahaman.

MesQ AQ tak secerah MENTARI & sebening XL
Banyak salah ma U, FREN
Q pinta SIMPATImu, FLEKSIbelkan hati
BEBASkan Q dg maafmu
Semoga amal ibadah Qta mendapat acungan JEMPOL


Hr yg qt nntikn tla tb
Seiring gma tkbir b’kumndang
D hr nan F3 ni, q mnt ikhlaskn htm m’bk pntu mf u/q
Brshkn jw dr sgla sla, agr bs mnntunq k jln yg dridloiNy.


Jemari tangan t’s4 berjabat
Ratapan muka t’kuasa bertatap
Apabila lara menusuk sukma
Goffman, bahasa adalah pakaian, manager of impression
Berbahasa itu personal performance


Ketidak-taat-asasan (inconsistency) mudah sekali ditemukan dalam bahasa pesan singkat. Kalaupun tidak menimbulkan kesalah-pahaman, tentu ketidak-taat-asasan ini memaksa pembacanya untuk cukup lama mencermati dan memikirkan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Pada contoh di atas, huruf Q menimbulkan ambivalensi pengucapan dan pemaknaan, karena kadang digunakan untuk ku, seperti AQ (aku), tetapi kadang digunakan untuk ki, seperti QT (kita). Demikian pula untuk 4, kadang dibaca for seperti b4 (before), tetapi kadang digunakan untuk empat seperti t’s4 (tak sempat).

Penghilangan huruf vokal memang menghemat ruang, tetapi juga berpeluang untuk menimbulkan kesalah-tafsiran. Berikut adalah cerita saya pribadi kepada seorang rekan yang saya sampaikan melalui SMS pula:

One day I wrote an sms to my staff. ”Sy mo ktm sampean”.
The answer from him, ” TM apa KTP?”
I replied: ”ktm”.
He said OK. But, what happened then?
A big file of students; cards (KTM) were put on my table.
Ha ha ha....

Bila tinjauan dilakukan berdasarkan mikrolinguinstik-preskriptif, maka dengan serta-merta kita akan menyalahkan sejumlah perilaku berbahasa tersebut. Seperti hasil sebuah survai di Norwegia, bahasa pesan singkat telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan guru, karena bakal merusak bahasa Norwegia.

Pengiriman pesan teks (SMS) lewat telepon seluler (ponsel) menjadi cara berkomunikasi populer, khususnya di kalangan anak muda, tapi sejumlah guru khawatir bahasa Norwegia bakal rusak. Sekitar 50 persen dari guru di Norwegia, yang turut dalam survei tentang pengaruh ponsel di sekolah, menyatakan bahwa bahasa SMS mengancam bahasa Norwegia, demikian laporan Koran Dagsavisen. Bahasa SMS lebih sering menggunakan singkatan, berkombinasi antara huruf dan angka. Survei, yang melibatkan sekitar 221 guru Norwegia ini, menemukan bahwa bahasa SMS sering muncul dalam tulisan di pekerjaan rumah murid-murid.

Survei ini dilakukan Berit Skog, seorang sosiolog, dan dia mengklaim bahwa hal ini menjadi alasan para guru melontarkan pernyataan pesan SMS merusak bahasa Norwegia. Para guru berpendapat, bahasa tulisan pelajar mereka berubah setelah mengenal ponsel, dan khususnya mereka sering menggunakan singkatan, kata Skog menjelaskan ke harian itu. Ia juga menyatakan bahwa banyak guru tak menyalahkan ponsel, tapi tetap mengakui bahwa tingkat berbahasa para murid menjadi lebih rendah. Bila dirata-rata, para pelajar di Norwegia mengirim SMS antara enam hingga 10 SMS per hari.

Namun demikian, bila tinjauan dilakukan berdasarkan sosiolinguistik, maka gejala berbahasa ini justru memunculkan isu baru dalam linguistik. Gejala bahasa yang baru merebak dua tahun belakangan ini, ternyata bisa menjadi cikal-bakal lahirnya teori linguistik baru, karena sangat jelas bahwa kaidah-kaidah parole dan kaidah-kaidah langue, sebagaimana diteorikan oleh Bapak Linguistik Modern, Ferdinand de Saussure, sudah tidak memadai lagi untuk menjelaskan ragam bahasa ini. Bahasa pesan singkat tidak bisa dikategorikan parole, pun tidak bisa masuk langue.

Penutup
- Bahasa dan pemikiran saling terkait dalam hubungan timbal balik
- Bahasa merupakan prasyarat utama bagi pengembangan peradaban
- Begitu penting peran bahasa bagi kehidupan, seorang filsuf Cina Confusius ketika ditanya para muridnya apa yang hendak dikerjakan pertama kali andai dia diberi kekuasaan mengatur negara menjawab bahwa dia akan membangun bahasa masyarakat. Sebab, bahasa adalah pusat pemahaman dan memahami manusia.
- Kemajuan ilmu pengetahuan, ia idak akan mampu
mengungkap semua misteri kehidupan
- karena dinamika masyarakat demikian hebat, maka ilmu sosiolinguistik akan punya prospek yang bagus
- Kemantapan pengetahuan bagi siapapun sewajarnya bermuara pada kemantapan keimanan kepada Allah SWT
Hakikatnya puncak pengetahuan bukan pengetahuan itu sendiri, melainkan kearifan

Missing points:
dialog Ibrahim Ismail - shared meaning and shared perspective
Content analysis - fabi ayya irrobikuma tukadhiban
Papan nama
Bilingual policy
Confusius
Moslem scholars ---Ibu Sina, Alfarabi, Alkindi, Ibnu Rusyd, Imam Ghozali,
4 prominent scholars/scientists – Galilio – Newton –Einstein—Steven Hawking

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar