Senin, 07 Desember 2009

Ambisi dan Ambisius

Ambisi dan Ambisius

Oleh Mudjia Rahardjo

Berawal dari bisikan kecil seorang mahasiswa yang dialamatkan ke telinga saya ketika menghampiri sekelompok mahasiswa yang baru saja selesai mengikuti kuliah. “Pak, orang itu kok ambisinya gede banget, dan sangat ambisius”, begitu bisikan mahasiswa tersebut. Sambil memandang orang yang dimaksudkan, saya terdiam sejenak seraya berpikir apa sebenarnya makna “ambisi dan ambisius” di benak mahasiswa tersebut, sehingga saya tak memberi respon dan tampak dingin. Mungkin mahasiswa itu bermaksud curhat kepada saya tentang orang tersebut, sehingga dari raut mukanya tampak sedikit kekecewaan atas sikap saya yang dingin.

Tampaknya, kata “ambisi” dan “ambisius” merupakan dua di antara sekian banyak kosakata bahasa Indonesia yang maknanya mengalami salah kaprah. Buktinya, orang akan merasa kurang senang bahkan bisa tersinggung kalau dikatakan “Kamu ambisius” atau “Kamu orang yang berambisi”. Mengapa? Karena di masyarakat kita kata “ambisi” dan “ambisius” berkonotasi negatif. Studi sosiolinguistik menyatakan kata yang berkonotasi negatif bisa menimbulkan reaksi emosional tertentu, dan bisa menimbulkan konflik, lepas apakah kata itu mengacu pada kenyataan atau tidak.

Kata “ambisi” umumnya diartikan sebagai keinginan kuat mencapai sukses dengan cara apapun, bahkan dengan cara yang tidak semestinya dan kalau terpaksa dengan mengorbankan teman dan sahabat karib sekalipun. Kata ini maknanya menjadi peyoratif, kata yang maknanya memburuk.

Benarkah kata “ambisi” dan “ambisius” bermakna negatif? Atau berkonotasi negatif karena kata itu menempel pada sikap-sikap negatif seseorang? Kegelisahan saya atas makna kata tersebut memaksa saya melakukan pelacakan lewat kamus dan buku yang membahas persoalan “ambisi” dan “ambisius”. Kata “ambisi“ dan “ambisius” berasal dari bahasa Inggris “ambition” dan “ambitious”. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (1989: 34) mendefinsikan “ambition” sebagai “strong desire to achieve something” (keinginan kuat untuk mencapai sesuatu”, sementara “ambitious” didefinisikan sebagai “to be full of ambition, especially for success or money” (penuh dengan ambisi khususnya untuk memperoleh kesuksesan atau uang”.

Dari definisi di atas bisa ditarik butir-butir pengertian sebagai berikut:

• ada tujuan yang hendak dicapai,
• ada keinginan kuat untuk mencapai tujuan tersebut,
• ambisius merupakan sikap alamiah yang berlaku pada siapa saja.

Jika pembaca setuju dengan butir-butir tersebut di atas, maka tidak ada sama sekali konotasi negatif yang dikandung kata tersebut. “So, there is nothing wrong with the words “ambition” and “ambitious”, begitu penutur bahasa Inggris biasanya berujar ketika melihat tidak ada persoalan yang dihadapi.

Pembacaan saya atas kesalahkaprahan makna “ambisi” dan “ambisius” menemukan jawaban yang melegakan. Menurut Tatenhove (dalam Wishnubroto, 1992:12) konotasi negatif kata kata tersebut ternyata sudah lama terjadi, yakni pada abad ke-15 ketika muncul pertama kali dalam literatur Inggris yang diambil dari bahasa Perancis. Kala itu ambisi berarti “an eager desire for honor, rank, and position” (suatu keinginan kuat untuk memperoleh kemuliaan, kedudukan dan jabatan tinggi). Dalam perkembangannya, kita tidak tahu mengapa justru makna inilah yang lebih populer dan dianggap benar oleh banyak orang. Sementara makna aslinya dalam bahasa Inggris yang baik dan benar tidak dipakai.

Orang memungut begitu saja arti kata ambisi yang memang cenderung negatif (karena orang yang berhasrat mencapai kedudukan, jabatan dan kekuasaan cenderung menghalalkan berbagai cara untuk memperolehnya). Padahal, arti asli kata itu dalam bahasa Inggris sangat bagus. Orang harus memiliki keinginan dan cita-cita kuat dan berjuang serta bekerja keras untuk mencapainya. Cita-cita kuat dan perjuangan keras itu menurut saya justru harus kita miliki jika ingin berhasil. Keberhasilan tidak mungkin datang tanpa perjuangan keras.

Oleh karena itu, kita harus mulai menggunakan dan memaknai kata “ambisi” dan “ambisius” dalam arti yang benar, sehingga tidak memandang ambisi dan ambisius sebagai tindakan dan sikap negatif.. Tetapi saya sadar bahwa pekerjaan ini tidak mudah, karena membetulkan “kesalahkaprahan” memang tidak segampang meluruskan ”kesalahan” makna kata. Sebab, di masyarakat sudah terlanjur terjadi apa yang oleh para ilmuwan sosial disebut sebagai “collective memory” yang tidak begitu saja mudah dihilangkan.

Uraian singkat ini mengajak kita untuk tidak melanjutkan kesalahkaprahan makna “ambisi” dan “ambisius” dalam interaksi sosial kita. Akhirnya, saya justru merenung jangan-jangan orang yang dimaksudkan mahasiswa di awal tadi justru orang yang harus kita tiru sikap dan etos kerjanya.

Akhirnya, atas bisikan mahasiswa tersebut saya tak lupa menyampaikan terima kasih sebab ternyata mengantarkan saya ke pemahaman yang benar atas kesalahkaprahan dan kesalahpahaman selama ini. Kini saya justru menunggu bisikan-bisikan selanjutnya. Mungkin bisikan lain akan meluruskan kesalahkaprahan yang lain pula. Kesalahkaprahan dan kesalahpahaman toh masih semarak di sekeliling kita.

__________

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar